Setelah lulus ujian pada Holiday Camp Junior, anak-anak year 6-9 ditantang untuk ikut serta dalam perkemahan di kaki Gunung Putri. Perkemahan dilakukan di tengah pedesaan. Di lokasi tersebut, hanya ada satu saung kecil milik salah satu orang tua murid untuk tidur. Tenda dibangun di atas lahan bawang yang sudah tidak lagi digunakan.

Berkemah di pegunungan mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang. Namun ada satu yang berbeda dari Holiday Camp Senior ini. Kegiatan ini tak hanya sekedar tidur di alam bebas dan berburu makanan. Di sini mereka belajar untuk membiasakan diri hidup jauh dari orang tua, di daerah baru dengan keterbatasan fasilitas, dan yang terpenting adalah interaksi dengan warga setempat.

Holiday Camp ala PRINCE’S dapat dikatakan sebagai "Program Padat Karya”. Our world is our classroom. Pada Holiday Camp kali ini, mereka memanfaatkan alam sebagai ruang kelas mereka. Banyak hal yang bisa mereka pelajari. Beberapa di antaranya adalah Survival Lesson : Broken Bone and Snakes Bite, mengajarkan anak-anak untuk memberikan pertolongan pertama pada korban patah tulang dan terkena gigitan ular berbisa. Tak hanya menyaksikan saja, mereka juga mempraktekan langsung materi yang didapat.

Hidup di tengah masyarakat desa tanpa mencoba bercocok tanam rasanya tidak lengkap. Mereka mendapat kesempatan untuk menanam pokcoy di kebun salah seorang penduduk. Tidak ketinggalan, mereka juga boleh memanen brokoli Tak ada satupun dari mereka yang terlihat canggung atau pun jijik. Mereka menikmatinya.

Adapun aktivitas di camp ground, yang letaknya lebih tinggi dari base camp. Butuh waktu sekitar 30 menit dengan kondisi jalanan turun naik untuk sampai kesana. Mereka belajar tentang mencintai alam, bertahan hidup dengan mengandalkan alam, hewan dan tumbuhan yang dapat dikonsumsi, serta praktek memasak darurat dengan menggunakan nesting dan kompor lapangan. Walaupun mereka hanya masak mie instant,ada rasa bangga tersendiri dalam wajah setiap anak. Apalagi ketika mereka bisa berbagi dengan teman satu tim mereka.

Sosialisasi dengan penduduk merupakan medan penting ketika berada di wilayah baru. Oleh sebab itu, anak-anak PRINCE’S mendapat kesempatan untuk bermain bersama anak-anak Desa Bobojong. Kunjungan ini mendapat dukungan pula dari kepala Madrasah setempat. Beliau dengan senang hati meminjamkan area sekolah untuk tempat bermain. Di sekolah mereka bermain bersama, saling bertukar bahasa, dan tidak lupa Sekolah PRINCE’S memberikan oleh-oleh kecil untuk anak-anak Bobojong. setiap anak, baik dari PRINCE’S maupun dari desa nampak begitu antusias dengan kegiatan ini.

Satu lagi pelajaran yang mereka dapat, meditasi dengan nuansa alam sungguhan. Suasana ini sangat mendukung untuk membawa anak-anak merefleksikan diri mereka. Selama camping, hati dan pikiran mereka dibuka melalui Philosophy Lesson tentang Love Yourself, Give Thanks,dan Appreciate Your Parents.

Di hari terakhir, walaupun sudah melalui dua hari yang padat, mereka tetap siap diajak tracking ke air terjun. Medan yang ditempuh tidaklah mudah, terutama bagi mereka yang baru pernah merasakan jalan pendakian. Sepertinya SPIRIT mereka tidak pernah mati. Mereka  mendaki di medan yang cukup berat dan menantang. Jerih payah mereka tak sia-sia. Mereka tiba di air terjun yang dituju dan mereka begitu gembira.

Tak hanya anak-anak yang bergembira. Pihak guru, warga setempat terlebih orang tua murid sangat senang dan bangga pada anak-anak PRINCE’S yang mampu menunjukan totalitas mereka dalam menjalankan kegiatan ini.